Gombong, KebumenPost.com — Berdiri megah di tengah kota kecil Gombong, Benteng Van Der Wijck menjadi saksi bisu masa kolonial Hindia Belanda. Benteng bersegi delapan ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 sebagai markas militer. Kini, bangunan bersejarah ini menyimpan banyak cerita dan menjadi salah satu ikon sejarah di Kabupaten Kebumen.
Pada masa jayanya, benteng ini merupakan destinasi favorit wisata edukasi, terutama bagi siswa-siswi dari berbagai kota di Jawa Tengah. Selain rombongan pelajar, wisatawan umum juga ramai berkunjung setiap akhir pekan. Di bagian depan benteng, pedagang kaki lima berjejer menjajakan manik-manik, mainan, hingga suvenir khas lokal. Suasananya hidup, meriah, dan menjadi denyut pariwisata Gombong saat itu.
Namun kini, kondisinya jauh berubah. Benteng Van Der Wijck tampak sepi dan nyaris tanpa pengunjung. Beberapa pintu tetap terbuka, namun lorong-lorong di dalamnya sunyi. Area bermain anak-anak seperti kereta mini dan kolam renang masih ada, namun terbengkalai dan tidak lagi dirawat. Cat mulai pudar, beberapa bagian terlihat berkarat, dan rumput liar tumbuh tanpa kendali.
“Mainannya sudah lama nggak dirawat, Mas. Sudah nggak dipakai lagi sejak pandemi. Sekarang pengunjung juga jarang, jadi nggak sempat dihidupkan lagi,” tutur Pak Slamet, salah satu penjaga yang telah bertugas sejak awal tahun 2000-an.
Di tengah area kompleks, kini berdiri sebuah hotel yang dibuka pada akhir tahun 2024. Hotel ini dibangun dengan harapan menjadi penunjang fasilitas wisatawan yang datang menginap.
“Hotel baru dibuka akhir tahun lalu, tapi ya… sama saja, sepi. Karena wisatanya sendiri juga belum pulih. Banyak kamar yang kosong,” kata Pak Slamet sambil memandangi area parkir yang lengang.
Tumpulnya promosi, minimnya pembaruan fasilitas, serta berkurangnya antusiasme masyarakat menjadi tantangan nyata bagi kelangsungan benteng ini sebagai objek wisata.
Kini, Benteng Van Der Wijck tak lebih dari simbol sejarah yang menunggu untuk dibangkitkan kembali. Diperlukan perhatian serius dari pemerintah daerah, pelaku wisata, dan masyarakat untuk menghidupkan kembali kejayaan destinasi ini—sebagai tempat wisata, sebagai pusat edukasi, dan sebagai warisan sejarah bangsa. (KP/Enggar Faharisa Pratama)